Selasa, 14 Agustus 2012

spiritualitas guru kakr. bahan pembinaan kakr riau sumbar


Spiritualitas Guru KAKR
Spiritualitas bukan kalimat asing kepada kita khususnya di GBKP. namun masih banyak diantara kita mengartikan spiritualitas sebatas gaya hidup. Maka orang-orang yang berspiritualitas ialah mereka yang rajin ke gereja, menjadi pelayanan, aktivis gereja, dsb. Padahal spiritualitas bukan hanya sekedar gaya hidup. Tulisan ini berupaya secara singkat untuk melihat apakah itu spiritualitas. Lalu apa pula kaitan spiritualitas dengan semangat pelayanan. Sebab sering ada anggapan pelayan yang baik adalah seorang yang memiliki spiritualitas.

Apakah Spiritualitas Itu?
Untuk memahami spiritualitas kita bisa meninjau kata spiritualitas itu sendiri. Ia berasal dari akar kata spare (Latin) yang berarti: menghembus, meniup, mengalir. Dari kata kerja spare terjadi bentukan kata bendanya, yaitu spiritus atau spirit. Konotasinya kemudian berkembang sangat luas: udara, hawa yang dihirup, nafas hidup, nyawa, roh, hati, sikap, perasaan, kesadaran diri, kebesaran hati, keberanian. Dalam Alkitab spirit dipahami dalam kata ruakh (Ibrani) dan pneuma (Yunani) yang secara pokok berarti: “nafas atau angin yang menggerakkan dan menghidupkan.” Dalam pengertian ini, spiritualitas adalah sumber semangat untuk hidup di dunia ini dengan segala aspek dan cakupannya, baik secara pribadi, bersama sesama dan dalam relasi dengan Allah.
Henri J.M. Nouwen seorang teolog katolik juga memiliki pengertian  tentang spiritualitas. Menurutnya sebuah kalimat yang menyarikan makna segenap pelayanan kristiani adalah kata-kata Yesus sehari sebelum kematian-Nya di kayu salib: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh. 15:13). Apa yang diteladankan Yesus di sini haruslah diteladani oleh pelayanan kristen. Dan ini berarti bahwa spiritualitas pada dasarnya adalah upaya terus-menerus (baca: proses) untuk belajar dari dan meneladani Kristus.

Kekeringan Spiritualitas
Persoalan besar para pelayan adalah persoalan kekeringan spiritual. Orang-orang yang kekeringan spiritual ini adalah orang-orang yang tidak menemukan alasan-alasan spiritual mengapa ia harus melakukan setiap bagian dalam pelayanannya. Kekeringan spiritual ini bisa membuat seseorang menjadi loyo atau ogah-ogahan. Ia tidak memiliki energi yang membuatnya berapi-api dan penuh semangat melakukan bagiannya. Atau, mereka mungkin melakukan banyak hal, namun dirinya merasakan bahwa apa yang dikakukannya itu kosong dan hampa. Pelayanan menjadi formal, rutin, kaku, dingin dan tidak melahirkan pertumbuhan, kedalaman dan kehangatan. Tidak ada vitalitas, yang ada adalah rutinitas yang membosankan dan membebani serta kehilangan makna. Flora Slosson menggambarkan kondisi kekeringan spiritual sebagai hubungan yang menjadi kering, seperti hubungan pokok anggur dan ranting-ranting yang mulai kering.
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kekeringan spiritualitas.
1.      Komunikasi dengan Allah yang berkurang.
Komunikasi dengan Allah menjadi hal yang utama dimiliki oleh setiap yang beriman. Sebab tanpa adanya komunikasi yang intim dengan Tuhan, maka spiritualitas tidak akan bertumbuh. Ada beberapa hal yang sering menjadi penghalang dalam komunikasi dengan Tuhan. Doa yang tak kunjung terkabul, kenagkuhan pribadi, Alkitab tidak menjadi bacaan kegemaran yang memberikan suka cita, permasalahan pribadi yang tak kunjung ada penyelesaian.
Mother Theresa dalam surat-surat yang dia tuliskan kepada pastor pembinanya, juga pernah merasakan kegelapan dalam pelayanan. Banyak hal yang dilakukan tapi dia meragukan apakah yang sudah dilakukan itu sudah menyenangkan hati Tuhan. Maka dalam doanya Theresa meminta Tuhan menerangi hatinya yang sedang gelap agar di terangi oleh Tuhan.
2.      Tantangan dari luar diri
Begitu banyak tantangan dalam, pelayanan. Tantangan itu bukan hanya datang dari dalam diri kita tetapi juga bisa datang dari luar diri kita. Bisa karena alam pelayanan yang tidak memberikan suka cita. Semua teman pelayan seperti orang yang tidakpunya hati. Anak sekokolah minggu seperti monster yang mengerikan, memusingkan. Sehingga pelayanan tidak lagi bias di nikmati. Di tambah lagi pekerjaan yang semakin menumpuk, urusan keluarga yang tidak ada ujungnya, semakin sulit membagi waktu antara keluarga, pelayanan, pacar, arisan, pendidikan dll. Hal ini sering menjadi awal terjadinya kekeringan spiritualitas.
3.      Pemahaman yang salah mengenai pelayanan
Banyak orang yang dikecewakan dalam pelayanan karena mereka salah memahami tentang pelayanan. Banyak orang yang mau melayani hanya karena ingin di sanjung. Ada yang ingin menjadi pelayan untuk mendapatkan perhatian orang lain. Namun ketika harapan dipertemukan dengan realita pelayanan, banyak di kecewakan. Bukannya mendapatkan pujian atau sanjungan atau pengakuan dari orang lain malah dijadikan sasaran kritik, selalu di salahkan.

Beberapa Prinsip Dasar Spiritualitas Kristiani
1.      Spiritualitas Berawal dari Relasi dengan Tuhan
Spiritualitas orang percaya berawal dari dan berdasar pada relasi kita dengan Tuhan. Relasi itu terlihat dalam kehidupan nyata manusia. Relasi itu hanya mungkin terjadi ketika Allah terlebih dahulu menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui Yesus Kristus. Maka relasi itu bukan sekadar relasi yang formal sifatnya (dalam ibadah atau ketaatan pada ajaran/dogma misalnya), tetapi dalam kehidupan sesehari dengan segala aspeknya.
Dari penjelasan diatas,  spiritualitas adalah relasi (pribadi) dengan Tuhan yang pada satu sisi adalah anugerah-Nya, serta pada sisi lain adalah tugas dan panggilan untuk tetap di dalam-Nya (Yoh. 15:1-8), dan hidup menuruti teladan-Nya. Untuk itu orang percaya tidak dapat dan tidak perlu melakukannya dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan kuasa Roh Kudus yang berkenan hadir dalam kehidupan kita.
2.      Spiritualitas Mencakupi Keseluruhan Kehidupan Nyata
Kehidupan yang dimaksud ketika membicarakan spiritualitas adalah kehidupan sebagaimana kita pahami dengan kacamata kristiani, yang bersumber pada, dianugerahkan dan dipelihara oleh Allah, untuk dimanfaatkan dan dinikmati manusia. Kehidupan juga adalah kehidupan baru (lihat misalnya Yoh. 3:5-8, II Kor. 5:17). Utuh, tidak dipilah rohani-jasmani, nyata dan menyeluruh. harus tetap bertumbuh dan berbuah. Maka spiritualitas kristiani adalah segenap upaya secara terus menerus untuk memaknai kehidupan ini sebagai hidup yang baru (mengoreksi diri), bertumbuh dan berbuah dalam segala aspeknya.
3.      Spiritualitas Menyangkut Kehidupan dalam Jemaat Tuhan
Relasi pribadi orang percaya dengan Tuhan tidak pernah berdiri sendiri, tetapi dalam rangka dan tidak dapat dilepaskan dari relasi antara Tuhan dengan semua orang beriman. Panggilan untuk percaya selalu bersamaan dengan panggilan untuk percaya bersama dan dalam persekutuan segenap orang beriman (ingat “Doa Bapa Kami”, bukan “Doa Bapa Saya”). Spiritualitas dalam terang ini berarti bukan hanya terlibat dalam dinamika persekutuan jemaat, tetapi bagaimana kita sungguh-sungguh merupakan bagian (elemen) yang hidup dari persekutuan jemaat dan turut membangunnya dalam Kristus berdasarkan kasih (Mat. 5:38-48, Flp. 2:1-11).
4.      Spiritualitas Menyangkut Kehidupan dengan Sesama di Tengah Masyarakat/Dunia
Relasi pribadi maupun komunal dengan Tuhan, selalu mengarah kepada sesama dan masyarakat/dunia (lihat lagi Yoh. 15:1-8). Karena Allah menempatkan orang percaya dalam masyarakat dan dunianya bersama sesamanya untuk menyaksikan Injil Kerajaan Allah (Lukas 4:43), melalui segala segi kehidupannya. Contoh yang sangat indah di sini adalah spiritualitas jemaat perdana (Kis. 2:41-47).
Berkaitan dengan ini, maka spiritualitas kristiani harusnya berpihak kepada keadilan dan kebenaran sebagai inti dari Injil Kerajaan Allah (Ef. 5:8-9). Relasi dengan Allah, membuka kemungkinan untuk mengenal maksud Allah terhadap manusia dan dunia, yaitu agar kehidupan dalam keadilan dan kebenaran menjadi kenyataan.

Spiritualitas Seorang Pelayan
Seorang pelayan bukanlah sekadar seorang pekerja. Seorang pekerja adalah seseorang yang harus melaksanakan tugas atau kewajibannya. Memang dalam pengertian ini seorang pelayan adalah juga seorang pekerja, yang harus melakukan tugas dan kewajibannya, bahkan dengan sebaik-baiknya (profesionalitas). Dan itu sesuai dengan yang dikatakan Paulus: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. ”(Kol. 3:17)
Segala sesuatu yang kita lakukan dengan kata dan perbuatan, –jelas termasuk pelaksanaan tugas kita sebagai guru KAKR– harus terjadi dalam Nama Tuhan Yesus, ketaatan kita kepada-Nya, serta dalam meneladani-Nya. Itu berarti bahwa sebagai seorang pelayan, kita terpanggil untuk terus merefleksikan pelaksanaan tugas kita sebagai pejabat gerejawi atau pegiat.

Prinsip Pelayanan Guru KAKR
Berikut beberapa prinsip bagi seorang pelayan anak dalam mengemban tugas pelayanannya, berdasarkan teladan Yesus yang diambil dari Markus 10:13-16.
1. Dikenal sebagai orang yang ramah dan terbuka untuk anak-anak (Ayat 13)
Jika orang-orang itu tidak mengenal Yesus sebagai seorang yang ramah, terbuka, mau menerima siapa saja, termasuk anak mereka, pastinya mereka tidak akan membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus pasti menerima anak mereka. Mereka memercayakan anak mereka kepada Yesus untuk didoakan.
Hendaknya seorang pelayan anak memiliki sikap itu. Dikenal sebagai orang yang dekat dengan anak-anak, selalu membuka tangan untuk mereka, dan mau direpotkan oleh segala tingkah laku anak-anak. Orang tua pun akan merasa aman memercayakan anak-anak-Nya kepada seorang pelayan anak yang pasti akan menyambut anak mereka dengan sukacita.
2. Tidak menghalang-halangi anak datang kepada Allah (ayat 14).
Yesus memarahi para murid-Nya yang telah menghalangi anak-anak itu datang kepada-Nya. Walaupun anak-anak itu masih kecil dan mungkin belum menyadari maksud orang tua mereka membawa mereka kepada Yesus, tetapi Yesus tetap menghargai jiwa setiap anak-anak itu.
Sama seperti orang dewasa yang saat itu mengelilinginya, anak-anak juga mendapat kesempatan yang sama untuk datang kepada-Nya. Bahkan Dia menyiratkan, hanya dengan menjadi seperti anak kecil itulah seseorang dapat masuk Kerajaan Allah.
Jadilah seorang pelayan anak yang tidak menghalang-halangi seorang anak pun datang kepada Yesus.Caranya?
- Sambutlah semua anak yang Tuhan percayakan untuk Anda layani dengan hati yang penuh kasih.
-Miliki beban untuk mengenalkan Kristus kepada mereka.
-Pakai setiap kesempatan bersama mereka untuk membawa mereka kepada Kristus.
- Bersungguh-sungguh melakukan tugas pelayanan kita dan tidak menganggap pelayanan anak sebagai prioritas pelayanan yang tidak penting.
3. Mau terlibat secara pribadi dan secara total dalam hidup setiap anak (Ayat 16)
Yesus tidak hanya menjamah anak-anak itu seperti yang telah diminta orang tua mereka. Dia bahkan memeluk setiap anak. Arti pelukan bagi seorang anak, bahkan bagi seluruh manusia itu amat dalam. Dalam sebuah pelukan pastinya melibatkan perasaan secara pribadi. Saat Yesus memeluk anak-anak itu ada keterlibatan secara pribadi antara Yesus dan anak-anak itu. Bagi seorang anak pelukan itu amat berarti karena mendatangkan rasa aman, rasa diterima, rasa dihargai, dan rasa dicintai. Yesus memberikan itu kepada mereka. Tidak itu saja, Yesus juga meletakkan tangan atas anak-anak itu lalu memberkati mereka. Ya, Yesus mendoakan mereka bahkan memberkati mereka. Dia memberikan semua itu dengan total, tanpa membedakan satu anak dengan yang lainnya.
Jadilah seperti Yesus, tidak sekedar hanya menerima tugas pelayanan gereja sebagai seorang pelayan anak, tetapi terlibat secara total dalam hidup pribadi maupun rohani setiap anak. Jangan menciptakan jarak dengan anak-anak layan kita. Rangkul, sentuh, dan doakan mereka. Bukan hanya saat kita berdiri di depan kelas, tetapi dalam setiap kesempatan bersama dengan mereka.


Vic. Jepri Alexander keliat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar